Posts Tagged “Andi Hakim Nasoetion”
Oleh Dr. Asep Saefudin Mohon maaf saya baru bisa muncul lagi sekarang setelah dua hari dalam status ‘off when roaming’. Terpaksa saya buat status itu karena diingatkan oleh teman saya yang pernah harus bayar sekitar Rp 2 juta ketika dia berada di luar wilayah roaming hapenya selama 3 hari. Dia adalah anggota millist di mana2 [...]
Oleh Dr. Asep Saefudin Mengapa bahasa Urdu, pak Andi di dalam tulisan ‘Tumbuh Kembang di Tiga Zaman’ itu hanya menduga bahwa kemungkinan hal itu karena banyak tentara pendudukan sekutu yang asal muasalnya dari brigade Punjabi dimana bahasa Urdu sebagai bahasa ibu. Alasan sebenarnya Beliau tidak tahu, dan itupun hanya berlangsung sangat sebentar. Pak Andi mengaku [...]
Oleh Dr. Asep Saefudin Zaman pendudukan Jepang juga telah memberikan kontribusi terhadap pak Andi sebagai ‘outliers’, walaupun tidak sebanyak zaman Hindia Belanda. Pada zaman Jepang, bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar di Sekolah. Bahasa Jepang juga wajib untuk para siswa. Setiap Senin pagi siswa siswi mengibarkan bendera Jepang dan sumpah pelajar Jawa Baru. Di dalam buku [...]
Oleh Dr. Asep Saefudin Ketika ada salah seorang anggota diskusi millist Alumni-IPB memberi komentar PBLS (20) “Mani detil pisan kang Asep”, saya menjadi malu. Saya tidak merasa tulisan itu sedetil kebiasaan Pak Andi. Untuk itu saya cepat-cepat buka buku “Pola Induksi Seorang Eksperimentalis“. Saya masih ingat waktu menyusun buku itu, Pak Andi meminta saya menyimpan [...]
Oleh Dr. Asep Saefudin Sampai dengan akhir tahun 80an, the Oxford Dictionary belum mampu mendefinisikan apa makna ‘outliers’ itu. HP blackberry saja masih memberikan garis bawah terhadap kata outliers ini, pertanda bahwa bahasa itu belum dikenal. Pak Andi menerjemahkan outliers ke dalam Bahasa Indonesia menjadi pencilan, yakni suatu pengamatan statistik yang nilainya berbeda sekali dari [...]
Oleh Dr. Asep Saefudin Di akhir surat undangan masuk IPB tanpa testing itu, Pak Andi sebagai Ketua PPMB-IPB menulis: “Atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih”. Statemen ini sangat menarik dan mencirikan betapa Beliau menghormati siapapun yang dikirim surat. Kebiasaan ini saya tiru ketika saya menjadi Ketua Umum HMI-Cabang Bogor 1979-1980, dan seterusnya bila saya [...]
Oleh Dr. Asep Saefudin Dengan style Pak Andi yang serba cepat, surat dikirim sekitar bulan Oktober 1975. Saat itu siswa-siswi SMA sedang menunggu pengumuman hasil ujian. Suatu penentuan waktu yang sangat genius. Mereka yang diterima IPB tanpa testing tentu pada ‘bungah sumringah’. Seuri sorangan (ketawa sendiri). Dan saat itu, karena jumlahnya cuman sedikit (300an), mereka [...]
Oleh Dr. Asep Saefudin Blink Pak Andi tentang penerimaan mahasiswa tanpa testing itu diimplemtasikannya pada tahun 1975, untuk merekrut mahasiswa tahun 1976. Waktu itu tahun akademik sama dengan tahun kalender biasa (Masehi), awal masuk sekolah adalah awal tahun. PPMB (Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru) awal tahun 75 sudah mulai rajin bongkar-bongkar rapor SMA peserta testing dan [...]
Oleh Dr. Asep Saefudin Cuplikan blink Pak Andi ini saya kemas dari berbagai cerita dari para senior IPB, termasuk Pak Andi sendiri ketika ngobrol santai waktu pembimbingan skripsi atau kesempatan lainnya. Para senior tersebut antara lain Pak Satari (Rektor IPB 72-78), Kang Rizal (Kepala LPPM-IPB 1999-2008), Kang Dayat (Ketua Dept GMSK 1985-1988). Pak Andi adalah [...]
Oleh Dr. Asep Saefudin Materi PBLS tentang Blink intinya saya ambil dari penyampaian Malcolm Gladwell tanggal 5 Agustus 2009 yang bertema ‘judgement’. Bila ingin lengkap ada baiknya dibaca buku Malcolm berjudul “Blink: the power of thinking without thinking‘. Sebelum saya masuk lagi ke materi PBLS lainnya, seri ini mengangkat ‘blink’ gaya Pak Andi Hakim Nasoetion [...]
