Premier Business Leadership Series (28)
By Swastika | September 15, 2009
Oleh Dr. Asep Saefudin
Pada saat kuliah Pengantar ke Filsafat Sains di Program Doktor Manajemen Bisnis IPB tanggal 12/09/2009 materi yang dibahas adalah soal pola berpikir induktif dan deduktif. Saya berhipotesisa bahwa pola induksi orang-orang Indonesia sudah mulai rusak sejak dini, yakni sejak SD, bahkan sejak TK. Kita terlalu dipaksakan berpikir deduktif dengan menjejalkan teori-teori dan konsep-konsep ‘atas’ melalui guru-guru yang juga terlalu banyak beban. Mereka sudah dikungkung oleh TIU (Tujuan Instruksional Umum) dan TIK (Tujuan Instruksional Khusus) yang kaku seolah-olah murid adalah obyek. Ujung-ujungnya, tingkat kreatifitas serta keterampilan konseptual dan teknikal anak didik menjadi minim, tidak berkembang dengan baik.
Mungkin asumsi yang dibuat para pemikir pendidikan kita adalah soal ketertinggalan bangsa Indonesia akibat lemahnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Inilah yang harus dikejar sejak dini. Sehingga anak-anak SD sudah dikucuri pelajaran berbasis sains dan matematika yang cukup melelahkan. Pengenalan kesusasteraan, budaya, keseniaan, agama, kemasyarakatan, dan aspek lingkungan hidup, kalaupun ada, sangat bersifat hapalan. Dus, tinimbang hal itu menghasilkan manusia yang berbudi, malah menambah beban otak siswa yang membuat mereka menjadi kelelahan. Akhirnya, ketika mereka mendapat kesempatan untuk berbuat bebas, mereka luapkan segala kesumpekan itu secara berlebih-lebihan. Lihat saja ketika mereka selesai ujian, aksi curat-coret dan kebut-kebutan menjadi hiasan di hampir seluruh sekolah. Juga, bila ada sedikit saja kesalah-pahaman terjadi, sering menyebabkan perkelahian masal dan aksi tawuran yang banyak menuntut korban.
Setelah diskusi panjang lebar soal induktif-deduktif itu, salah seorang peserta kuliah ada yang bertanya di sekitar NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus). Premisnya, NKK itulah yang telah menumpulkan daya pikir kreatif orang-orang Indonesia. Apa benar begitu?
Konsep NKK itu digulirkan Daoed Joesoef (Mendikbuda Kabinet Pembangunan III) pada bulan Maret 1978, persis ketika para aktifis mahasiswa masih berada di tahanan. Sentimen teman-teman mahasiswa saat itu menyeruak. Kami yang berada di dalam tahanan Pangdam Siliwangi tidak luput membahas NKK hampir di setiap kesempatan. Umumnya teman-teman pada benci. Saat itu saya sempat nyeletuk ‘Mestinya kita bangga punya mentri pendidikan dan kebudayaan yang punya konsep. Bukankah selama orde baru, kita tidak pernah melihat adanya konsep terbuka dari seorang mentri dikbud?”.
Teman-teman sempat rada kaget. Kunaon pikiran si eta kok kitu (kenapa pikirannya kok begitu)? Bayangan masa lalu ini menghiasi pikiran saya ketika akan menjawab pertanyaan mahasiswa S3 tersebut.
Namun demikian, akan saya lanjutkan nanti aja hehehehe.

1 Comment
Pingback: Premier Business Leadership Series (27)