Premier Business Leadership Series (24)
By Swastika | September 3, 2009
Oleh Dr. Asep Saefudin
Mohon maaf saya baru bisa muncul lagi sekarang setelah dua hari dalam status ‘off when roaming’. Terpaksa saya buat status itu karena diingatkan oleh teman saya yang pernah harus bayar sekitar Rp 2 juta ketika dia berada di luar wilayah roaming hapenya selama 3 hari. Dia adalah anggota millist di mana2 dan waktu itu belum tahu ada fasilitas ‘off when roaming’. Dia sangat baik sehingga dia kasih tahu temannya supaya status roaming harus diubah bila berada di luar kawasan hape. Kalau tidak, tagihan sebesar itu bisa terjadi pada diri saya. Uang sebesar itu setara dengan rataan gaji dosen PTN per bulan.
Kembali ke outliers Pak Andi. Di masa awal kemerdekaan, pemerintah Indonesia belum sempat menerbitkan buku-buku pelajaran sekolah berbahasa Indonesia. Selain itu, kalaupun ada, buku-buku masih ditulis dalam bahasa Belanda. Untungnya Pak Andi menguasai bahasa itu secara ‘outlier’ karena sewaktu Sekolah Rakyat banyak sekali membaca buku berbahasa Belanda. Lalu, kebetulan Beliau menemukan buku-buku pelajaran setingkat SMP berbahasa Belanda untuk aljabar, fisika, ilmu ukur, dan botani di rak ayahnya. Teman-temannya banyak yang memerlukan buku itu, padahal saat itu belum ada mesin fotokopi. Cara memperbanyak yang paling ampuh adalah dengan menggunakan mesin stensilan. Di situlah Beliau mendapatkan pelajaran ‘outliers’ lagi dengan mengetik semua buku itu untuk diperbanyak dan dibagikan ke teman-temannya. Itulah yang membuat Beliau lancar mengetik walaupun dengan sistem ‘sebelas jari bersirip di tengah’, demikian istilah Beliau suatu waktu di depan kelas ‘Matematika Peradaban’ tahun 1977.
Selain tugas mengetik, semua buku tersebut harus diterjemahkan terlebih dahulu ke dalam bahasa Indonesia. Hal itu Beliau langsung lakukan sambil mengetik di kertas stensil. Itulah sebabnya Beliau mahir berbahasa Indonesia dan terbiasa membuat istilah baru untuk keilmuan di dalam bahasa kita. Tidak heran kalau kita melihat nama Beliau sebagai Ketua Tim Penyusunan Buku Matematika Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dekade 70.
Ketika saya menjadi mahasiswa bimbingannya tahun 1979-80, selain saya melihat tulisan ‘THINK’ di mejanya, biasanya saya melihat pak Andi sedang asyik di depan komputer, menulis artikel. Di dalam hati ‘pantesan tulisannya sering saya lihat di koran-koran nasional’. Pada dekade 70 itu tulisan Beliau di Kompas hampir setiap minggu muncul.
Ketika Beliau wajib mengambil mata kuliah Bahasa asing modern kedua di NCSU (North Carolina State University), diambilnya Bahasa Belanda. Tugas akhirnya adalah menerjemahkan paper berbahasa Belanda ke Bahasa Inggris, tentu saja Beliau tidak menemukan sedikitpun kesulitan. Mengapa? Sewaktu di SMP, selain pak Andi menerjemahkan bahasa Belanda ke Indonesia, juga pernah menerjemahkan bahasa Belanda ke Inggris dari buku berjudul “Step by Step” (lihat Nasoetion, 2002).
Dari ulasan PBLS tentang Pak Andi ini, Beliau adalah ‘blinker’ dan sekaligus ‘outlier’. Terutama di dalam kebahasaan, keilmuan, statistika, dan kedisiplinan. Tidaklah berlebihan jika Pak Mochtar Buchori mengatakan “Pak Andi itu tahu banyak hal dan mendalam”.
Tentang outlier Pak Andi saya cukupkan dulu sampai di sini. Selanjutnya bagaimana cerita outlier Malcolm Gladwell? Insya Allah diteruskan kapan-kapan.

1 Comment
Pingback: Premier Business Leadership Series (23)