Premier Business Leadership Series (22)

By Swastika | September 1, 2009

Oleh Dr. Asep Saefudin

Zaman pendudukan Jepang juga telah memberikan kontribusi terhadap pak Andi sebagai ‘outliers’, walaupun tidak sebanyak zaman Hindia Belanda. Pada zaman Jepang, bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar di Sekolah. Bahasa Jepang juga wajib untuk para siswa. Setiap Senin pagi siswa siswi mengibarkan bendera Jepang dan sumpah pelajar Jawa Baru. Di dalam buku “Pola Induksi”, pak Andi menuliskan bahasa Jepang dari sumpah itu secara lengkap yang katanya masih Beliau ingat. Adapun terjemahannya kira-kira:

Satu, kami adalah pelajar Jawa Baru. Satu, kami di bawah bimbingan Nippon Raya. Demi pembangunan Asia Timur Raya kami belajar. Demi pembangunan Asia Timur Raya kami gembleng jiwa raga kami. Demi pembangunan Asia Timur Raya kami ucapkan sumpah kami ini.

Kata-kata dalam sumpah itu jelas arahnya. Untuk “nation character building” saya pikir sumpah itu perlu sekali. Saat ini tidak ada sumpah pelajar seperti itu. Yang ada adalah sumpah jabatan, tetapi bahasanya rada ngawang, kurang ada ‘determination‘. Misalnya (kurang lebih): Bahwa saya bersumpah untuk tidak akan menerima sesuatu hal yang akan atau patut dicurigai berhubungan atau mungkin berhubungan dengan jabatan atau kedudukan saya.

Para siswa sekolah lima hari dalam seminggu, karena setiap Kamis diisi kegiatan “kinroohosyi” atau kerja-bakti. Kegitan ‘kinroohosyi’ itu macam-macam, termasuk memelihara kebun pohon jarak di Sekolah. Para siswa memanen biji jarak untuk diperas minyaknya sebagai bahan minyak pelumas pesawat terbang. Kegiatan ‘kinroohosyi’ setiap Kamis ini telah menggembleng jiwa gotong royong para siswa dan sekaligus ‘learning by doing‘.

Pada waktu saya SMP awal tahun 70an juga ada kegiatan mirip ‘kinroohosyi’ kelas secara bergiliran. Waktu itu bukan untuk upaya penggemblengan, tetapi karena SMP saya kekurangan kelas. Jadi ada kelas kebun secara bergiliran. Setelah pemerintah membangunkan kelas tambahan, kegiatan ‘kinroohosyi’ tidak ditemukan lagi. Namun demikian, kelas kebun sangat bermanfaat bagi siswa-siswa untuk memahami betapa tidak mudahnya (sangat sulitnya) kehidupan petani. Mereka harus mencangkul setiap hari, termasuk hari Minggu. Khusus hari Minggu, saya senang sekali ‘kinroohosyi’ di ladang, karena jam 10 pagi bisa ikut makan nasi timbel lengkap dengan tempe goreng, peda (ikan asin) bakar, daun sampeu (singkong) dan sambel terasi ‘ledok’. Hhmm asyiik.

Karena pendudukan Jepang cuman berumur jagung efek ‘outliers’ Jepang terhadap Pak Andi tidak terlalu banyak. Setelah proklamasi kemerdekaan RI, bahasa Jepang dihilangkan dari daftar pelajaran SMP. Sebagai gantinya diajarkan bahasa Urdu (salah satu bahasa di India), terus bahasa Inggris.

Loh kok bahasa Urdu? Nantikan seri PBLS berikutnya.

<< Sebelum || Berikut >>


1 Comment

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word