Premier Business Leadership Series (3)

By Swastika | August 29, 2009

Oleh Dr. Asep Saefudin

Sebelum saya ulas the type of innovation ala Malcolm Gladwell, sedikit saya angkat diskusi panel tentang ekonomi. Dalam hal ini PBLS mengambil tema ‘transformation of the global economy’. Panel dipimpin oleh Mikael Hagstrom orang SAS yang asal usulnya dari Rusia. Beliau adalah Executive VP SAS untuk Eropa, Timur Tengah, Afrika dan Asia Pasifik. Sangat piawai dalam bicara, berperawakan kecil dan tidak berhidung besar macem politikus Indonesia.

Para panelis adalah arsitek ekonom Chindia yang mewakili the rapid growing country dan Australia mewakili western country yang juga rapid growing western country. Mereka adalah Suman K. Bery, Dirjen National Council of Applied Research India; Fan Gang, National Economic Research Institute China, dan Tim Harcourt, Kepala Ekonomi Australian Trade Comission. Terlihat mereka adalah produk-produk pendidikan sekuler yang bicara jelas, tidak neko-neko, dan selalu berpikir positif. Saya hakul yakin, teman-teman dari ilmu ekonomi mengenal nama-nama begawan dan arsitek ekonomi Chindia yang mendunia karena ratusan academic paper dan banyak buku yang mereka buat.

Suman K. Bery tidak bergaya ‘ngayah ijupak’ atau ‘hayang kapuji’ (ingin terpuji), dengan kalem bilang ‘saya tidak tahu kalau dunia memandang India sebagai fast growing country. Saya pikir India biasa-biasa saja’. Hah? Kitu wae disebut biasa. Kumaha kalau sudah ‘ngamuk’. Hadirin pada ketawa, Suman tetap saja serius tapi tetap simpatik bagaikan bintang film India dekade 70, Sunil Dutt.

Fan Gang, juga terlihat serius dan berwajah ganteng mirip Jacky Chen, bilang dengan tenang ‘mungkin kami terlalu cepat menginjak gas ekonomi. Do we have to slow down our economy..?’ Kitu cenah. Orang-orang pada ketawa juga. Beliau memfokuskan ekspansi ekonomi dengan mengoptimumkan the local. Wow!

Tim Harcourt yang juga nulis best-selling business book, The Airport Economist, memulai bicara dengan mengingat lagu John Lennon, Imagine. Katanya: “Bayangkan kalau sebuah negara tanpa orang asing. Bayangkan kalau sebuah negara dengan universitas tanpa riset, tidak ada mahasiswa asing. Bayangkan kalau sebuah negara yang imigrasinya berbelit-belit. Bayangkan kalau sebuah negara tidak menghormati sesama. Bayangkan kalau sebuah negara birokrasinya rese.”…waduuh?! Hati saya tertembak. Wah gawat, jangan-jangan dia akan bilang ‘itulah negara tetanggaku’. Untungnya dia meneruskan “jangan jawab semua bayangan itu. Itu adalah Australia sebelum tahun 80an. Spontan saya bergumam ‘alhamdulillah, sanes ka abdi. Nuhun Gusti’.

Lalu, bagaimana Om Malcolm? Nantikan setelah saya presentasi data minyak tanah hehehe.

<< Sebelum || Berikut >>


1 Comment

Leave Your Comment

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word