Data Guru Menurut Sekolah

By | April 27, 2014

Menurut data dari PGRI, jumlah guru menurut sekolah tempat bekerja adalah:
Guru TK: 267,576 (9.15%)
Guru SD: 1,644,925 (56.22%)
Guru SMP: 556,905 (19.04%)
Guru SMA: 264,512 (9.04%)
Guru SMK: 175,656 (6.00%)
Guru SLB: 16,102 (0.55%)

Sumber data PGRI, disalin dari Kompas 22/4/2014

Rumahtangga Mulai Mengurangi Belanja Rokok (Pelan tapi Pasti)

By | April 26, 2014

Kontroversi tentang fatwa haram rokok yang terjadi beberapa minggu lalu, memberikan penulis ide untuk melihat rokok dari kacamata konsumsi atau lebih tepatnya pengeluaran rumahtangga untuk membeli rokok. Susenas BPS mulai tahun 2005 mengukur khusus pengeluaran untuk rokok dalam seminggu dimana pengeluaran rokok ini dimasukan kedalam pengeluaran makanan. Tahun sebelumnya pengeluaran rokok digabung dengan sirih, tembakau, pinang dan bahan untuk rokok lainnya. Tetapi menurut pengamatan penulis, pengeluaran sirih cs ini sangat kecil, sehingga dalam tulisan ini akan difokuskan ke rokok (rokok kretek, rokok putih dan cerutu). Pengamatan akan dilakukan dari tahun 2004 sampai 2007 (maaf 2008 penulis belum punya data mentahnya), dengan melihat pengeluaran rokok, pengeluaran makanan dan total pengeluaran perbulan berserta rumahtangga yang mempunyai pengeluaran rokok.

Rumahtangga (rt) perokok adalah rt yang mempunyai pengeluaran untuk rokok, entah itu dipakai sendiri oleh anggota rt, dipakai orang lain atau untuk keperluan lainnya. Setidaknya konsep ini bisa digunakan sebagai pendekatan mengukur rt pemakai rokok.

Pada tahun 2007 terdapat 61.6% rt perokok dari 56.9 juta rt, angka ini ternyata mempunyai pola cenderung menurun sejak 2004 (71.8%). Walaupun pola ini cukup menggembirakan, tetapi angka rt perokok ini termasuk tinggi yang artinya bahwa rokok benar-benar barang yang tidak bisa dilepaskan dari masyarakat Indonesia. Propinsi yang persen rt perokoknya tinggi umumnya di pulau Sumatera seperti Bengkulu, Sumatera Selatan, Riau dan Nanggroe Aceh Darussalam; sedangkan di luar Sumatera adalah propinsi Maluku Utara yang merupakan tertinggi di Indonesia sejak 2004 (89%) sampai 2007 (77.4%).

Pengeluaran Rokok dan Proporsinya terhadap Pengeluran Rumahtangga Perokok

Pada 2007, rata-rata pengeluaran rokok rt-perokok perbulan di Indonesia adalah Rp. 134 375,- , meningkat sekitar 42% dari tahun 2004. Kenaikan dari tahun ke tahun ini bukanlah hal baru karena harga rokok juga meningkat setiap tahunnya, yang dipengarui oleh pajak cukai rokok dari Pemerintah dimana terakhir naik 15%. Pada 2007 Propinsi yang rt-perokok dengan pengeluaran untuk rokok terbesar adalah Kepulauan Bangka Belitung, Riau dan DKI Jakarta dengan pengeluran rokok lebih dari Rp 200 000,- perbulan.

Tetapi yang menarik jika melihat proporsi pengeluaran rokok terhadap total pengeluaran rt perokok perbulan. Ternyata sejak tahun 2004 (11.5%) terdapat pola menurun sampai dengan 2007 (10.3%), artinya ada kemugkinan rt-perokok mulai mengurangi belanja rokok perbulannya. Ternyata di daerah pedesaan (rural) ternyata proporsi pengeluaran rokoknya lebih tinggi dibandingkan perkotaan (urban) tetapi keduanya juga mempunyai kecenderungan menurun. Walaupun menurun lambat sepertinya kondisi ini cukup menggembirakan bagi pecinta kesehatan. Kampanye anti-rokok, Peraturan Pemerintah, dan Fatwa ulama diduga menjadi penyebab menurunnya proporsi pengeluaran rokok ini.

Konsumsi Rokok dan Kemiskinan

Jika kita kelompokan rt menjadi 5 kelompok (Quintile) berdasarkan besarnya pengeluaran perkapita, dimana Q1 adalah 20% rt dengan pengeluaran perkapita terendah dan Q5 adalah 20% rt dengan pengeluaran perkapita tertinggi, maka kita akan mendapatkan konsep kemiskinan relatif yang sederhana.

Rata-rata pengeluaran rokok untuk rt-perokok berkorelasi dengan tingkat kesejahteraan, makin sejahtera maka besarnya pengeluaran rokok juga besar. Beda untuk kelompok terkaya (Q5) dan termiskin (Q1) sekitar rata-rata 42 ribu rupiah perbulan. Tetapi yang menarik adalah proporsi pengeluaran rokok terhadap pengeluaran total. Walaupun rt-perokok terkaya rata-rata pengeluaran rokok besar tetapi proporsi terhadap total pengeluaran perbulannya paling kecil dibanding kelompok termiskin sekalipun. Hal ini cukup dimaklumi karena pengeluaran rt kaya umumnya untuk pengeluaran non-makanan yang nilainya cukup besar dibandingkan dengan harga rokok. Ternyata kelompok rt-perokok yang tingkat kesejahteraan menengahlah yang proporsi pengeluaran rokoknya besar.

Kesimpulan

Proporsi pengeluaran rokok pada rt perokok mempunyai kecenderungan menurun, walaupun penurunannya lambat. Dengan makin banyak desakan tentang bahaya merokok, seperti pola ini akan terus berlanjut dari tahun ke tahun. Rt perokok sebagian besar ada di propinsi-propinsi pulau luar Jawa. Walaupun rata-rata pengeluaran rokok sebulan berkorelasi positif dengan tingkat kemiskinan, tetapi proporsi pengeluran rokok terhadap total pengeluran lebih tinggi pada rt kelas menengah.

Sumber Data

Seluruh data berasal dari Survei Sosial Ekonomi Nasional 2004 s/d 2007 BPS yang diolah kembali dengan definisi dan formula yang dirumuskan penulis.

Siswa PAUD di Pedesaan NTT Meningkat 500% Hanya Dalam 2 Tahun

By | April 26, 2014

Program PAUD pertama kali dikenalkan sejak munculnya UU Sisdiknas no 2/2003. Pendidikan PAUD merupakan salah satu pendidikan Pra-Sekolah selain TK/RA, Penitipan Anak, atau lembaga lainnya.

Susenas mulai mendata tentang pendidikan pra-sekolah sejak 2002, tetapi untuk informasi khusus PAUD bisa ditemukan sejak 2006 dan sampai 2009, dan rencananya tahun 2010 tetap ditanyakan.

Kenapa saya pilih NTT untuk studi ini, alasannya sich cuma karena aku hanya punya data NTT untuk tahun terbaru 2009 (Maklum belum mampu beli rawdatanya…mahal!). Walaupun sebenarnya NTT juga termasuk propinsi dengan kondisi sosial yang buruk dan pantas untuk dicermati.

Kalau melihat kondisi pendidikan anak 0-6 tahun di NTT, sekitar 800 ribu anak 0-6 tahun pada tahun 2007, dan terus menurun sehingga pada 2009 hanya 780 ribu. Walaupun dari segi kuantitatif menurun tetapi persen anak 0-6 tahun yang pernah/sedang mengikuti pendidikan Pra-Sekolah meningkat, dari 8.8% (2007) menjadi 13.8% (2009) sebuah perkembangan yang menggembirakan walaupun masih termasuk rendah untuk ukuran pendidikan anak usia dini. Baik di perkotaan maupun pedesaan menunjukan perkembangan yang sama, walaupun di perkotaan, anak 0-6 tahun udah lebih banyak menikmati pendidikan pra-sekolah. Alasannya jelas karena dari segi ekonomi, orang tua di perkotaan cukup mampu, kesadaran oran tua tinggi dalam hal pendidikan dan akses ke pendidikan pra-sekolah juga lebih mudah.

 

Ibu Mampu Mendorong Anak Sekolah Lebih Tinggi dibanding Bapak

By | April 26, 2014

Dalam kehidupan berumahtangga atau keluarga, pengaruh orantua terhadap anak sangatlah kuat, salah satunya adalah pendidikan anak. Pada umumnya orangtua ingin anaknya bersekolah tinggi, atau minimal sama dengan pendidikan orang tua. Tetapi kadang harapan orangtua dan impian anak tersebut bisa tidak kesampaian kerana kondisi ekonomi orangtua yang buruk yang kadang disebabkan karena pendidikan orangtua sendiri yang rendah.

Artikel ini mencoba mencari temuan awal kondisi pendidikan anak usia 16-18 tahun (usia SMA sederajat) dibandingkan pendidikan orangtuanya (Bapak dan Ibu). Pilihan anak usia 16-18 tahun karena pada usia ini anak umumnya masih tinggal dengan orangtuanya, sehingga dari data Susenas yang akan saya gunakan akan bisa dihitung. Pendidikan SMA sederajat cukup menggambarkan pendidikan menengah ke atas walaupun kadang ada anak usia tersebut yang sudah di perguruan tinggi. Range usia anak juga diambil yang sempit supaya tidak berbias untuk anak-anak berpendidikan rendah karena usianya memang masih muda. Sumber data berasal dari Susenas 2007 dengan memilih sampel hanya anak usia 16-18 tahun yang berstatus anak kandung dari kepala keluarga (bukan cucu, menantu atau keluarga lain) dan anak tersebut masih mempunyai Bapak dan Ibu lengkap.

Pada tahun 2007, terdapat 9.4 juta anak usia 16-18 tahun yang masih tinggal dengan kedua orangtuannya (tidak yatim atau piatu). Pendidikan yang pernah atau sedang diduduki anak usia tersebut paling banyak adalah SMA/SMK/MA (56%) dan SMP/MTs (23%). Sedangkan pendidikan orantuanya, 76% Bapak-Bapak berpendidikan tidak lebih dari SMP/MTs, sedangkan pendidikan Ibu 83% tidak lebih dari SMP sederajat! Dari hasil pengolahan lebih lanjut, ditemukan bahwa 65% anak usia 16-18 tahun pendidikannya lebih tinggi dibandingkan pendidikan Bapak-nya, sedangkan 75% anak pendidikannya lebih tinggi dari pendidikan Ibunya. Hal ini bisa banyak intepretasinya, salah satunya adalah anak ternyata lebih banyak mencontoh pendidikan Ibu-nya dibanding pendidikan Bapaknya, mengingat pendidikan Bapak dan Ibu hampir sama.

Hubungan jenis kelamin Anak dengan pendidikan Bapak atau Ibu ternyata secara umum tidak ada, artinya baik anak laki-laki atau perempuan yang pendidikannya lebih tinggi dibandingkan Bapak hampir sama persentasenya, begitu juga dengan Ibu.

Anak Berpendidikan Rendah

Kondisi yang menyedihkan terjadi untuk anak dengan pendidikan rendah dimana anak itu tidak pernah/sedang sekolah sama sekali. Umumnya mereka berasal dari rumah tangga dengan orang tua yang berpendidikan rendah juga.

Hampir semua (92%) anak yang pendidikannya SD sederajat berasal dari Bapak yang pendidikannya SD atau kurang. Orangtua berpendidikan rendah (SD atau kurang) sebagian besar hanya bisa menyekolahkan anaknya sampai dengan tingkat SMP sederajat. Kemungkinan besar karena orang tua yang berpendidikan rendah mempunyai kemampuan ekonomi yang rendah juga sehingga kurang mampu untuk menyekolahkan anaknya ke tingkat SMA sederajat. Rata-data tingkat pengeluaran perkapita orangtua pendidikan rendah sekitar Rp 262.000,- perbulan perorang, sangat rendah dibanding rata-rata pengeluaran perkapita masyarakat Indonesia sekitar Rp 313.000,- perbulan perorang. Karena proporsi pengeluaran pada rumahtangga miskin (20% rt termiskin) biasanya sebagian besar (sekitar 70%) digunakan untuk makanan, maka pengeluaran untuk sekolah sepertinya terabaikan.

Pendidikan Ibu yang rendah ternyata mampu menyekolahkan anaknya pada tingkat pendidikan tertentu, lebih tinggi dari seorang Bapak dengan pendidikan yang rendah. Ini bisa menjadi temuan awal bahwa jika ada anak 16-18 tahun dengan tingkat pendidikan tertentu, maka peluang dia punya ibu dengan pendidikan rendah akan lebih tinggi, dibandingkan dia punya bapak pendidikan rendah. Hal ini bisa dimaknai bermacam-macam, salah sataunya Ibu pendidikan rendah lebih mampu mendorong anaknya sekolah lebih baik dibanding Bapak. Atau mungkin ada penjelasan yang lain? Saya sangat senang jika pembaca punya feedback tulisan saya ini.

Apakah Anda Termasuk Pengangguran?

By | April 26, 2014

Sering kita mendengar statistik pengangguran yang diumumkan oleh Pemerintah. Orang awam mungkin berpikiran pengangguran itu adalah orang yang tidak punya pekerjaan. Tidak salah memang, tetapi kurang tepat saja. Tetapi efek dari ketidaktepatan difinisi ini yang sering membuat sebuah statistik seolah-olah bombastik atau bisa juga dianggap remeh. Dan yang paling mengerikan adalah ketidaktepatan definisi ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk meng-goal-kan sebuah kebijakan.

Jenis pengangguran

Penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) secara keseluruhan dikelompokan berdasarkan kegiatannya yaitu Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja. Angkatan kerja sendiri adalah penduduk usia kerja yang bekerja atau punya pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja dan pengangguran. Bukan Angkatan kerja antara lain yang masih sekolah, mengurus rumah tangga atau melaksanakan kegiatan lainnya selain untuk kegiatan pribadi. Berarti pengangguran disini jelas merupakan salah satu bagian dari Angkatan kerja, jadi mahasiswa atau ibu rumah tangga yang mengurus rumah tidak bisa dibilang pengangguran.

Pengangguran dalam kelompok Angkatan Kerja ini sebenarnya sering dikenal sebagai Pengangguran Terbuka, walaupun sebenarnya masih ada jenis pengangguran yang lain seperti Pengangguran Setengah menganggur. Pengangguran Terbuka itu antara lain mereka yang tidak punya pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan, tidak punya pekerjaan dan sedang mempersiapkan usaha, tidak punya pekerjaan dan tidak mau mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, atau mereka yang sudah mendapatkan pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Jadi sekarang cukup jelas bukan kriteria pengangguran terbuka yang angkanya sering diucapkan Presiden atau pejabat lainnya.

Kalau yang dimaksud setengah menganggur itu pengangguran dilihat dari sisi jam kerja. Jadi yang tergolong setengah menganggur adalah mereka yang bekerja kurang dari jam kerja normal yaitu kurang dari 35 jam seminggu.

Jadi cukuplah jelas sekarang, bagaimana melihat pengangguran dari sisi definisi yang jelas, tidak hanya makan mentah-mentah angka pengangguran tanpa tau definisinya. Bagi yang ingin mengolah sendiri dari raw data Sakernas 2008, saya copy paste kan komentar saya di artikel sebelumnya. Anda bisa sesuaikan sendiri untuk data Sakernas tahun sebelum dan sesudah 2008.

Anggap saja angka pengangguran terbuka adalah pembagian antara angka pembilang terhadap angka penyebut. Untuk mengeluarkan angka pembilang maka perlu difilter dulu sebagai berikut:

b5r2a1=2 & b5r3=2 & (b5r4=1 or b5r5=1 or b5r23=1 or b5r23=2)

Sedangkan angka penyebut bisa diperoleh dengan memfilter data sebagai barikut:

(b5r2a1=1 or b5r3=1 or b5r4=1 or b5r5=1 or b5r23=1 or b5r23=2)

Semoga artikel ini bisa memberikan penjelasan yang mudah untuk mengerti tentang angka pengangguran di Indonesia.

Penerapan Regresi Linier untuk Bidang Kesehatan dari Susenas

By | April 26, 2014

Sebuah penelitian dengan menggunakan beberapa variabel umumnya bertujuan mengetahui hubungan antar variabel tersebut. Hubungan antar variabel dapat bersifat kedekatan (korelasi) atau hubungan sebab-akibat dimana satu atau lebih variabel mempengaruhi peubah lainnya. Peubah yang mempengaruhi sering disebut variabel bebas (independent variables) atau peubah penjelas (predictor), sedangkan variabel yang dipengaruhi adalah variabel tidak-bebas (dependent variables) atau peubah respon (response variables). Hubungan peubah respon dengan peubah penjelas ini bisa dirumuskan dengan persamaan matematika yang sering dikenal sebagai persamaan/model regresi.

Sedangkan hubungan peubah-peubah penjelas dengan satu peubah respon yang bisa digambarkan dalam garis lurus maka disebut persamaan regresi linier, dan jika bisa digambarkan dengan garis yang tidak lurus maka disebut regresi non-linier. Sedangkan regresi linier yang melibatkan 1 peubah respond an 1 peubah penjelas disebut regresi linier sederhana. Sedangkan yang melibatkan 1 peubah respon dan banyak peubah penjelas maka disebut regresi linier berganda.

Mungkin untuk penjelasan singkat tentang regresi linier cukup disini dulu, walaupun sebenarnya masih banyak informasi yang perlu diketahui dari regresi ini, misalnya: pengujian model regresi, ukuran baik-tidaknya model regresi yang kita buat, asumsi-asumsi yang harus dipenuhi (linier, sisaan saling bebas, ragam sisaan homogen, sisaan harus normal, variabel penjelas harus saling bebas), ada juga pengaruh data ekstrim atau pencilan, dan masih banyak lagi. Untungnya sumber info di atas bisa diperoleh dari internet.

Penerapan ke Sumber Data Susenas

Susenas adalah Survei Sosial Ekonomi Nasional yang pendataannya dilakukan tiap bulan Juli setahun sekali. Unit yang disurvei adalah rumahtangga, jadi selain informasi tentang rumahtangga juga tersedia data anggota rumah tangganya juga, data orang-perorang rumah tangga tersedia juga. Tentunya info yang ada hanya terbatas informasi umum, tidak spesifik nama dan alamat.

Data Susenas sangat kaya sekali dengan informasi sosial ekonomi masyarakat Indonesia. Untuk untuk diperlukan pengalaman dan pengetahuan yang luas untuk membuat sebuah model regresi dari fenomena sosial khususnya rumah tangga.

Bidang Kesehatan

Perlu dicoba untuk melihat hubungan sebab-akibat antara veriabel-varibael yang berhubungan dengan bidang kesehatan, seperti berikut ini:

Pengaruh dari jumlah anggota rumah tangga yang sakit terhadap peubah respon pengeluaran khusus kesehatan per bulan perkapita. Disini diasumsikan bahwa makin banyak anggota rumahtangga yang sakit maka akan berpengaruh ke besar pengeluaran khusus kesehatan. Bisa juga memasukan peubah penjelas jumlah balita di rumahtangga sehingga kita bisa gunakan metode regresi linier ganda dengan dua variabel penjelas. Selain itu bisa dimasukan peubah penjelas lain seperti jumlah anggota keluarga, jumlah anggota rumahtangga bukan usia produktif, jumlah anggota yang pernah rawat jalan/inap, dan masih banyak lagi.

Itulah salah satu contoh sebuah topik studi dengan menggunakan metode regresi linier ganda dari sumber data susenas untuk bidang kesehatan. Penulis sadar sebenarnya masih banyak info yang kurang, baik info tentang regresi, atau susenas atau penerapannya; tetapi ini sebuah awal (seperti tag line blog ini), jadi Andalah yang bisa menentukan langkah berikutnya. Semoga artikel ini bisa memberikan inspirasi Anda.

Referensi:

Saefudin,A. , Sartono, B. , dan Setiabudi, N.A. 2010. Pengenalan Umum Analisis Statistika dengan SAS 9.2, Seri 2: Analisis Statistika Sederhana. Bogor, Departemen Statistika IPB.

 

Bagaimana Menentukan Responden di Rumahtangga Terpilih

By | April 26, 2014

Dalam penelitian survei rumah tangga, kadang kita  harus menentukan siapa wakil anggota rumahtangga yang menjadi narasumber. Kadang interviewer memilih siapa saja yang ada dan bisa ditemui pertama kali di rumahtangga tersebut. Ternyata langkah ini dapat menimbulkan bias sample yang dapat merusak informasi yang kita kumpulkan. Terus apa salahnya? Mungkin salah satu alasannya adalah orang yang sering dirumah (berpeluang besar menjadi responden) mempunyai kebiasaan/pengetahuan yang berbeda dengan orang yang sering berpergian. Misalnya survei tentang acara TV, kalau responden kita banyak yang sering dirumah maka bisa jadi informasi yang diperoleh bisa over-estimated, sebaliknya jika responden orang di jalanan maka informasi yang diperoleh malah uder-estimated.
Di Indonesia yang budayanya masih kuat, biasanya kepala keluarga laki-laki yang  sering menemui orang-orang yang belum dikenal. Sehingga mungkin cara terbaik adalah menemui dahulu kepala keluarga, kemudian baru menerangkan ke mereka bahwa kita butuh responden dari salah satu anggota rumah tangga bersangkutan.
Umumnya untuk mendapatkan sample dari rumahtangga terpilih menggunakan metode ulang-tahun, Kish-Grid, dan Kuota.
Metode ulang-tahun digunakan dengan cara mencari anggota rumahtangga yang baru saja merayakan ulang tahunnya atau mau merayakannya. Secara teori jelas setiap anggota rumahtangga mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai responden. Tetapi cara ini ternyata mempunyai kelemahan, yaitu tidak seimbangnya jumlah sample menurut gender dan kelompok umur. Kadang di Indonesia, masih banyak anggota rumah tangga yang tidak hafal ulang tahun keluarganya karena budaya merayakan ultah bukan sebagai hal utama dalam hidup, apalagi di daerah pedesaan dan rumah tangga dengan manula yang banyak.
Metode Kish-Grid, metode pemilihan responden ditentukan dengan tabel bilangan yang ditemukan oleh Leslie Kish (1949). Konsepnya sederhana, kita mendata/melisting anggota rumahtangga yang sesuai kriteria responden kemudian dengan nomor acak kita bisa menentukan anggota rumahtangga yang terpilih.  Dalam berbagai penelitian, metode ini mempunyai tingkat penolakan dari calon responden yang tinggi. Pertanyaan awal dari interviewer biasanya menayakan “Berapa jumlah orang yang tinggal di sini?” Di negara maju, dimana banyak manula yang tinggal sendirian,  pertanyaan seperti ini bisa menimbulkan kecurigaan yang tinggi. Tetapi di negara berkembang seperti Indonesia, mungkin tidak bermasalah karena umumnya orang tua masih tinggal dengan anggota keluarga lainnya.
Metode Kuota (Quota Sampling), merupakan metode yang banyak digunakan walaupun masih banyak juga yang memperdebatkan. Contohnya, jika kita punya 10 rumahtangga terpilih, maka kita pilih responden perempuan dan 5 rumahtangga, dan laki-laki di rumahtangga sisanya. Asumsinya adalah indikator rasio gender (laki terhadap perempuan) sekitar 1. Untuk keseimbangan umur, juga bisa diterapkan quota umur, misalnya dari 10 rumah tangga, pilih responden tertua di 5 rumahtangga dan sisa rumahtangga yang lain dipilih yang usia termuda. Selain gender dan usia, bisa juga diterapkan quota menurut mobilitasnya  seperti lama di rumah (ibu rumahtangga, pensiunan, pengangguran) dan lama di luar rumah (pekerja atau mahasiswa). Untuk menentukan jumlah samplenya, harus didasarkan dari asumsi yang benar. Misalnya berdasarkan data sensus sebelumnya.

Nah itulah salah satu cara bagaimana kita memilih responden di unit sample yang terpilih (rumahtangga). Semoga bisa memberikan informasi yang berguna dalam meningkatkan kualitas data yang diperoleh dari lapangan. Jadi ingat pepatah statistika “Garbage In, Garbage Out”, kalau data yang dikumpulkan berkualitas sampah, maka hasil analisanya juga akan sampah juga. Statistik tidak ada model daur ulang 3R seperti sampah beneran!

Metode Kish Grid untuk Memilih Responden

By | April 26, 2014

Salah satu metode dalam memilih responden adalah dengan metode Kish Grid. Metode ini pertama dikenalkan oleh Leslie Kish lewat jurnalnya A Procedure for Objective Respondent Selection Within the Household, di dalam Journal of the American Statistical Association tahun 1949. Walaupun lama, ternyata metode ini masih banyak digunakan dalam riset pemasaran dan riset sosial, terutama untuk survei rumahtangga.

Misalnya dalam sebuah sample cluster, kita sudah memilih 8 rumahtangga sample. Untuk memilih responden dari masing-masing rumahtangga denganmetode Kish-Grid, berikut ini langkah-langkahnya:

  1. Anda datang ke rumahtangga ke-2 dari 8 rumahtangga terpilih.
  2. Listing anggota rumahtangga yang sesuai dengan kriteria responden, baik yang waktu itu ada di rumah maupun diluar rumah. Urutkan dari anggota rumahtangga yang berumur termuda ke umur tertua. Jadi nomor calon responden ke-1 adalah anggota rumahtangga termuda.
  3. Misalnya ternyata ada 3 orang calon responden di rumahtangga tersebut. Nah karena rumahtangga yang didatangi adalah rumahtangga yang ke-2, maka lihat kolom rumah tangga warna abu-abu dan lihat listing terakhir dari daftar ini, maka hasil persilangannya adalah menunjuk ke angka 2 (background kuning). Jadi responden nomor ke-2 lah (nama2) terpilih sebagai responden.

 


Jika responden terpilih tidak ada hari itu, maka buatkan janji untuk bisa bertemu dan wawancara lain waktu.

Referensi:
http://www.audiencedialogue.net/kya2c.html

Profil Pasangan Usia Subur dan Peserta KB

By | April 26, 2014

Potensi Desa (Podes) 2008 yang dilakukan Badan Pusat Statistika (BPS) mendata pasangan usia subur (PUS) dan peserta KB di setiap desa di Indonesia. Informasi ini tentunya berasal dari pejabat desa yang berwenang yaitu Kepala Desa/Lurah atau pejabat lain yang ditunjuk atau narasumber lain yang relevan. Artinya, data jumlah penduduk khususnya data KB ini akan sangat tergantung dengan kualitas perangkat desa/kelurahan dalam mengumpulkan data peserta KB. Ini yang harus Anda perhatikan dahulu sebelum menggunakan informasi di artikel ini.

Menurut Pedoman Podes 2008, definisi PUS adalah pasangan suami istri yang masih berpotensi untuk mempunyai keturunan atau biasanya ditandai dengan belum datangnya waktu menopouse (terhenti menstruasi bagi istri). Peserta KB (akseptor) adalah pasangan usia subur (PUS) dimana salah seorang menggunakan salah satu cara/alat kontrasepsi untuk tujuan pencegahan kehamilan, baik melalui program maupun non program.

Di Indonesia, pada tahun 2008 terdapat sekitar 38.9 juta PUS dimana sekitar 69.1% merupakan akseptor KB (26.9 juta PUS). PUS di pulau Jawa sebagai akseptor KB tertinggi dibanding pulau lainnya (72.9%).

Sedangkan jika kita melihat data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2007, sekitar 54% perempuan status pernah/masih kawin usia 15-49 tahun sedang/masih menggunakan alat-alat KB baik yang modern maupun tradisional. Propinsi yang persen PUS sebagai akseptor KB yang tertinggi adalah Bali (80%) dan DI Yogjakarta (79%), sedangkan yang terendah adalah Papua (18%).

Dari statistik diatas, sepertinya akseptor KB di Indonesia masih rendah, menurut artikel ini (http://prov.bkkbn.go.id/kaltim/news_detail.php?nid=254) rendahnya akseptor KB dikarenakan belum adanya rasa memerlukan sehingga akan menjadi kebutuhan. Selain itu akses ke alat KB di tingkat desa/kelurahan juga masih dirasakan rendah. Pemerintah lewat BKKBN saat ini sudah membentuk Pos Alat KB Desa (PAKBD) sehingga akses masyarakat ke alat KB menjadi lebih mudah.

Penyaluran Kredit Rumah Bersubsidi Baru 4.13%

By | April 26, 2014

Menurut Deputi Bidang Pembiayaan Perumahan Rakyat, salama kuartal 1 (Jan-Maret) 2014 penyaluran kredit rumah bersubsidi baru 5240 unit dari target sampai akhir tahun 120.000 rumah. Ini masih sekitar 4.13%, jadi masih kecil sekali.

Salah satu penyebab adalah belum adanya ketentuan Kementrian Keuangan terkait penyesuaian harga patokan rumah bersubsidi. Jadi developer masih menunggu kebijakan pemerintah.

Sumber: Kompas 16/4/14