Premier Business Leadership Series (31)

By | September 18, 2009

Oleh Dr. Asep Saefudin

DJ mengharapkan politik dalam arti konsep itu harus dikuasai dengan baik oleh mahasiswa. Contoh mahasiswa yang dianggap ideal dalam hal ini adalah Bung Hatta, katanya. Akan tetapi, kenyataannya mahasiswa ‘dianggap’ DJ sebagai manusia rapat umum dengan senjata megafon, bukan ‘man of analysis’. Sebenarnya, mahasiswa tahun 70an menurut anggapan saya, tidak se’megafon’ sekarang. Tetapi mungkin karena populasinya saat itu tidak sebanyak sekarang, jadi kalaupun ada ‘megafonism’ tidak terlalu mencolok. Sekarang mahasiswa banyak sekali. Statistika pun saat ini menghadapi problem bilangan besar. Penanganan masalah populasi besar dengan populasi kecil, terang saja akan berbeda Entah dari mana DJ menyimpulkan bahwa mahasiswa saat itu (dekade 70) juga adalah tipe rapat umum plus megafon. Tetapi saya salut DJ bisa sampai melihat itu. Mungkin karena saya ‘pelaku’, jadi sulit melihat adanya kesan mhs saat itu sbg tipe megafon. Terlepas dari itu semua, gagasan DJ tentang NKK ternyata belum tuntas diimplementasikan.

DJ membuat konsep NKK itu sebenarnya utk menyiapkan Negara-Bangsa memasuki zaman ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad ke 21, yang saat ini dikenal dengan ‘knowledge-based’. Memang benar, Malaysia dengan konsep Wawasan 2020 sebenarnya sedang menyiapkan knowledge-based economy dengan knowledge-based society. Kalau ditilik ke situ, saya agak miris, Indonesia semakin jauh dari keberadaan negara jiran. Bila tidak ada orang-orang ‘outliers’ yang melakukan ‘blink’ maka tidak akan ada ‘tipping point’ (Gladwell, 2009; 2005; 2001). DJ adalah tipe outliers dan pernah nge-blink, tetapi belum mencapai tipping point.

NKK yang disiapkan untuk menyongsong abad sains dan teknologi itu dimulainya tahun 1978, melalui jabatan DJ sebagai Mendikbud Kabinet Pembangunan III. Fokusnya adalah pemupukan kekuatan nalar mahasiswa melalui semangat ilmiah. Dus, kampus adalah miniatur masyarakat ilmiah.

Tahap kedua seharusnya dilakukan pada periode Kabinet Pembangunan IV (1983-1988) yang tidak kejadian itu. Fokus di sini kampus sebagai institusi otonom yang basisnya keilmuan. Di dalam periode inilah mahasiswa disiapkan mampu menghadapi berbagai macam paradoks, seperti paradoks globalisasi dan fragmentasi. Dosen harus disiapkan untuk menghadapi problematika akademik yang semakin kompleks. Diharapkan mereka dapat membangun kultur akademik.
Tahap ketiga seharusnya terjadi pada periode Kabinet Pembangunan V (1988-1993). Di sini diharapkan budaya keilmuan dan kebiasaan kebenaran (the habit of truth) sudah kokoh di dalam kampus dan mulai berkembang di luar kampus. Dengan demikian, demokrasi tidak akan menjadi demo-crazy.

DJ menyesalkan dua hal, 1) NKK tahap pertama tidak murni berjalan sesuai dengan konsep asli, dan 2) NKK tahap 2 dan 3 tidak terjadi. Sejak awal Presiden Soeharto sudah mulai khawatir dengan pelaksanaan NKK. Memang kekhawatiran itu saya pikir wajar saja. Kalau tidak, reformasi bisa saja terjadi pada tahun 1988, bukan 1998. Dan reformasi yang terjadi tahun 88 itu dasarnya adalah ‘nalar’, bukan sekedar luapan emosional spt yang terjadi pada reformasi 98.

Itulah NKK yang dikonsepkan DJ. Saya melihat, NKK itu bukan saja sebagai ‘unfinished project’ juga terlalu berbasis kampus. Parsial. Saya tidak melihat adanya pendekatan holistik terhadap pendidikan. Terlalu menunggu di tikungan kampus. Mestinya DJ membuat NKP, Normalisasi Kehidupan Pendidikan yang isinya NKS (Sekolah) dan NKK (Kampus). Inilah yang saya sodorkan dalam diskusi di S3 DMB-IPB.

Apa itu NKP? Akan diulas dalam serial PBLS edisi Syawal. Untuk saat ini ijinkanlah saya mengucapkan selamat iedul fitri 1 Syawal 1430 H. Mohon maaf atas segala kekhilafan.

<< Sebelum || Berikut >>

Reblog this post [with Zemanta]

Premier Business Leadership Series (30)

By | September 17, 2009

Oleh Dr. Asep Saefudin

Saya lanjutkan pemikiran NKK DJ yang diserang sebagai upaya pemerintah untuk mengurangi gerakan ‘moral’ kemahasiswaan itu.

Sebenarnya NKK tidak menghalangi mahasiswa bereksperimen dalam organisasi ‘politik’ mahasiswa selama hal itu dilakukan dalam organisasi ekstra yang bersendikan ideologinya masing-masing. Organisasi mahasiswa tsb diharapkan jadi tempat latihan keintelektualan, kemandirian, dan kebebasan mahasiswa berpolitik praktis, seperti yang pernah dilakukan oleh para pendiri Republik. Demikian DJ menegaskan. Adapun organisasi intra kampus, ada dalam kordinasi BKK (Badan Kordinasi Kemasiswaan). Badan inilah yang menggantikan Dewan Mahasiswa. Adapun di bawah BKK itu ada Senat Mahasiswa Fakultas dan Himpunan Profesi. Dus, DJ merasa tidak pernah menghilangkan kegiatan ekstra kurikuler. Namun, konsep BKK inilah yang sebenarnya telah memicu kontroversi. Sehingga ada anggapan: NKK yes, BKK no.

Saat ini nama Dewan Mahasiswa (DM) dirubah menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). BEM ini sangat keren, betul-betul menjiplak organisasi pemerintahan, yakni dipimpin oleh Presiden dan Wakil Presiden. Di bawah Presiden dan Wakil itu ada Mentri-mentri. Waktu saya WR IV IPB (th 2003) sempat kaget ketika sekretaris kantor bilang “pak tadi ada Mentri Pertanian ke sini”. Hah? Hebat amiir Mentri Pertanian datang ke ruang saya tanpa birokrasi sedikitpun, tanpa nguing-nguing mobil polisi. Telusur punya telusur, ‘sihoreng’ Mentri Pertanian BEM-KM-IPB. Terus terang saat itulah saya baru tahu BEM-KM-IPB memakai istilah pemerintahan sebuah negara. Mungkin biar seksi. Tetapi sebenarnya lebih seksi tahun 70an, lha wong saat itu sudah jelas-jelas menggunakan istilah seksi. Saya adalah anggota Seksi Pendidikan DM-IPB periode 76-77. Mungkin ada baiknya juga (kalee) saat ini menggunakan istilah Mentri. Kalaupun kelak tidak jadi Mentri beneran, sudah pernah jadi Mentri BEM. He he he he.

NKK yang diinginkan DJ dalam hal politik ini adalah dalam artian ‘konsep’ atau ‘politics’. Konsep adalah citra/gambaran yang dibentuk menurut suatu konstruksi pikir tertentu. Konstruksi ini, sesuai dengan hakikat pendidikan tinggi, yakni berpikir menurut disiplin ilmiah dan nalar keilmuan. Demikian tegas DJ. Konsep, nalar, dan disiplin ilmiah inilah yang menjadi hakekat dari NKK. Saat itu ramai dibahas, penalaran mahasiswa, nalar, nalar, nalar!

Di sinilah kesetujuan saya terhadap esensi NKK sekaligus kritik terhadap parsialisasi pendidikan yang sempat didiskusikan di kelas program S3-DMB-IPB.

Apa kira-kira kelemahannya? Sebelum masuk ke masalah ini, gagasan NKK DJ yang ditulis ulang tahun 2001 itu akan dituntaskan dulu. Tetapi pada serial PBLS berikutnya.

<< Sebelum || Berikut >>


Premier Business Leadership Series (29)

By | September 17, 2009

Oleh Dr. Asep Saefudin

Teman-teman aktifis mahasiswa di tahanan Pangdam Siliwangi itu menyimpulkan bahwa DJ (Daoed Joesef) diminta Presiden Suharto untuk meredam aksi mahasiswa yang sudah kelewat batas. Nama NKK, Normalisasi Kehidupan Kampus, hanyalah nama bagus untuk upaya pembungkaman gerakan mahasiswa. Umumnya mereka memandang NKK sebagai titik awal dunia kelam kehidupan kemahasiswaan. Walaupun saya agak berbeda dengan pandangan ini, saya menganggap wajar hal ini atas dasar banyak hal. Misalnya, ketidak sempurnaan informasi dan juga rasa egoisme mahasiswa. Mereka yakin seyakin-yakinnya bahwa mahasiswa adalah pejuang moral yang penuh dengan idealisme.

Pandangan positif dari kalangan teman-teman agak sedikit. Secara pribadi saya berpendapat bahwa kehilangan daya kritis mahasiswa tidak sepenuhnya bisa ‘diteumbleuhkeun’ kepada NKK. Tetapi, memang NKK adalah suatu ‘proyek’ yang belum selesai. Plus, program pendidikan secara menyeluruh sejak SD, lalu SMP dan SMA, sepertinya kurang mendapat upaya pembenahan. Kalaupun ada, tetap saja tidak mendasar. Masih dalam konteks penjejalan memori yang berlebih-lebihan. Konon, semakin kesini semakin menjadi-jadi. Di lain pihak, negara-negara Barat dan bahkan Jepang, semakin memanusiakan anak didik. Gagasan manusia yang utuh di Indonesia juga tidak berbasis kepada manusia itu sendiri. Apakah benar kita sedang melaksanakan pendidikan manusia seutuhnya, padahal isinya banyak hapalan yang menjadi beban peserta didik?

Kembali ke soal NKK, saya merasa beruntung pada hari Minggu tanggal 13 September didatangi teman seangkatan, Dr. Erna Maria Lokollo. Entah apa yang ada di benaknya, tahu-tahu dia menyodorkan sebuah fotokopi Opini di Tempo 16 September 2001. Berarti dia masih punya lembaran itu walaupun sudah berumur 8 tahun. Tentang apa opini itu dan siapa penulisnya? Topiknya sinambung dengan PBLS saya edisi saat ini. Yakni, tentang NKK yang ditulis oleh penggagasnya sendiri, Daoed Joesoef. Jadilah saya bisa merujuk langsung gagasan NKK tanpa harus melakukan riset pencarian dokumen yang merupakan salah satu pekerjaan paling berat di negeri ini. Nuhun pisan Mbak Erna. Saya memang sudah lama ingin mengulas kembali soal NKK yang sering dianggap sebagai cikal bakal kehancuran pendidikan tinggi. Apa betul anggapan itu? Inilah intisarinya.

DJ sebenarnya menginginkan mahasiswa kelak menjadi pemimpin bangsa. Bahkan DJ secara spesifik menyebut tipe pemimpin bangsa itu seperti halnya Bung Hatta. Secara tegas DJ menjelaskan bedanya pemimpin dan manajer. Pemimpin adalah seseorang yang tahu ‘apa’ yang sebaiknya dilakukan. Sedangkan manajer hanya perlu tahu bagaimana sebaiknya melakukan ‘apa’ tersebut. Dus, pemimpin harus mempunyai visi dan membuat ejawantah konsep visi sehingga bukan sekedar kumpulan kata-kata. Di sinilah visi menjadi hidup alias mempunyai ‘soul’. Kaitannya dengan Negara-Bangsa (nation-state), pemimpin harus negarawan bukanlah politisi. Inilah angan-angan yang ada di benak DJ. Katanya, pendidikan harus peduli terhadap persoalan ini.

Konsep NKK dibuat untuk mengejawantahkan gagasan mendasar tersebut. Karena, DJ beranggapan bahwa mahasiswa dan bahkan dosen di tanah air belum berpandangan prospektif. Umumnya berpandangan jangka pendek, bahkan kalau di Bogor sering diplesetkan menjadi ‘jangka imah’ alias untuk ke rumah atau ‘duit’. Kalaupun ada yang berpandangan jauh ke depan, tentu jumlahnya tidak banyak. Itulah gunanya kehidupan kampus dinormalkan kembali.

NKK tidak mengharamkan mahasiswa berpolitik, tetapi menganjurkan mereka mampu menghayati dan menguasai satu aspek politik yang termat penting tetapi saat itu diabaikan. NKK membedakan secara tegas politik dalam arti konsep (politics), kebijakan (practical policy action), dan arena (political organisation/institution). Politik dalam arti kebijakan dan arena itulah yang dilarang di Kampus. Tempatnya di luar Kampus dan jangan mengatasnamakan Kampus. Nah loch, kena dech!

<< Sebelum || Berikut >>


Premier Business Leadership Series (28)

By | September 15, 2009

Oleh Dr. Asep Saefudin

Pada saat kuliah Pengantar ke Filsafat Sains di Program Doktor Manajemen Bisnis IPB tanggal 12/09/2009 materi yang dibahas adalah soal pola berpikir induktif dan deduktif. Saya berhipotesisa bahwa pola induksi orang-orang Indonesia sudah mulai rusak sejak dini, yakni sejak SD, bahkan sejak TK. Kita terlalu dipaksakan berpikir deduktif dengan menjejalkan teori-teori dan konsep-konsep ‘atas’ melalui guru-guru yang juga terlalu banyak beban. Mereka sudah dikungkung oleh TIU (Tujuan Instruksional Umum) dan TIK (Tujuan Instruksional Khusus) yang kaku seolah-olah murid adalah obyek. Ujung-ujungnya, tingkat kreatifitas serta keterampilan konseptual dan teknikal anak didik menjadi minim, tidak berkembang dengan baik.

Mungkin asumsi yang dibuat para pemikir pendidikan kita adalah soal ketertinggalan bangsa Indonesia akibat lemahnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Inilah yang harus dikejar sejak dini. Sehingga anak-anak SD sudah dikucuri pelajaran berbasis sains dan matematika yang cukup melelahkan. Pengenalan kesusasteraan, budaya, keseniaan, agama, kemasyarakatan, dan aspek lingkungan hidup, kalaupun ada, sangat bersifat hapalan. Dus, tinimbang hal itu menghasilkan manusia yang berbudi, malah menambah beban otak siswa yang membuat mereka menjadi kelelahan. Akhirnya, ketika mereka mendapat kesempatan untuk berbuat bebas, mereka luapkan segala kesumpekan itu secara berlebih-lebihan. Lihat saja ketika mereka selesai ujian, aksi curat-coret dan kebut-kebutan menjadi hiasan di hampir seluruh sekolah. Juga, bila ada sedikit saja kesalah-pahaman terjadi, sering menyebabkan perkelahian masal dan aksi tawuran yang banyak menuntut korban.

Setelah diskusi panjang lebar soal induktif-deduktif itu, salah seorang peserta kuliah ada yang bertanya di sekitar NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus). Premisnya, NKK itulah yang telah menumpulkan daya pikir kreatif orang-orang Indonesia. Apa benar begitu?

Konsep NKK itu digulirkan Daoed Joesoef (Mendikbuda Kabinet Pembangunan III) pada bulan Maret 1978, persis ketika para aktifis mahasiswa masih berada di tahanan. Sentimen teman-teman mahasiswa saat itu menyeruak. Kami yang berada di dalam tahanan Pangdam Siliwangi tidak luput membahas NKK hampir di setiap kesempatan. Umumnya teman-teman pada benci. Saat itu saya sempat nyeletuk ‘Mestinya kita bangga punya mentri pendidikan dan kebudayaan yang punya konsep. Bukankah selama orde baru, kita tidak pernah melihat adanya konsep terbuka dari seorang mentri dikbud?”.

Teman-teman sempat rada kaget. Kunaon pikiran si eta kok kitu (kenapa pikirannya kok begitu)? Bayangan masa lalu ini menghiasi pikiran saya ketika akan menjawab pertanyaan mahasiswa S3 tersebut.

Namun demikian, akan saya lanjutkan nanti aja hehehehe.

<< Sebelum || Berikut >>

Premier Business Leadership Series (27)

By | September 15, 2009

Oleh Dr. Asep Saefudin

Team of Rivals

{{w|Salmon P. Chase}}, former cabinet member a...
Image via Wikipedia

Team of Rivals adalah buku sejarah Amerika tentang Abraham Lincoln. Buku itulah yang menginspirasi Barrack Obama ketika terpilih menjadi Presiden Amerika. Adalah wajar bila Obama memilih Hilary Clinton menjadi salah seorang mentri utama di Kabinetnya. Lincoln telah melakukan hal itu sekitar 150 tahun yang lalu.

Tradisi Amerika dalam memilih presidennya melalui gaya konvensi di partai memang sudah lama. Partai di sana menjaring calon Presiden melalui proses internal secara ketat, terbuka, walaupun terlihat saling menyerang. Banyak adu otak, tetapi tidak ada adu otot. Melalui proses itulah lalu akhirnya partai mengusung satu pasangan yang dijagokan. Para kandidat yang kalah, walaupun tentu kecewa, tetapi mereka menghormati keputusan demokrasi. Tentunya, hal ini bisa terjadi karena azas politik bersih dan jurdil (fairness) bukan sekedar slogan. The true real live politics.

Ketika Lincoln masuk sebagai nominasi presiden dari Partai Republik, para pesaingnya adalah orang-orang beken. Mereka adalah Senator New York

{{w|William H. Seward}}, Secretary of State of...
Image via Wikipedia

William H. Seward, Gubernur Ohio Salmon P. Chase, dan negarawan senior Missouri Edward Bates. Mereka semua adalah sarjana hukum kawakan dan dikenal sebagai orang-orang brilian, orator ulung, dan saling bersaing secara politik. Mereka adalah dari golongan ‘outliers’.

Ketika Lincoln memenangkan proses nominasi kandidat presiden, para pesaingnya merasa bahwa warga republik telah memilih calon yang salah. Beberapa tokoh partai menilai bahwa Lincoln tidak sebanding dengan tiga kandidat ‘pinter’ lainnya. Mereka terima Lincoln sebagai kandidat presiden, walaupun dengan penuh kesedihan. Lincoln hanyalah pemain politik lokal. Tapi, seperti pepatah kita, nasi telah jadi bubur. Tinggal dikecapin saja, tambah suir ayam, dan ‘dipurulukan’ bawang. Insya Allah bubur itu lebih enak ketimbang nasi biasa.

Pada proses berikutnya, Lincoln akhirnya memenangkan pemilu presiden,

Edward Bates ( September 4, 1793 – March...
Image via Wikipedia

dan jadilah dia Presiden Amerika tahun 1861. Di sinilah nampak kejeniusan politik Lincoln, yakni dengan mengundang pesaing utama tersebut masuk ke dalam keluarga politiknya. Senator Seward menjadi Menlu (Secretary of State), Gubenur Chase menjadi Secretary of the Treasury (Mentri Keuangan), dan tokoh Bates menjadi Jaksa Agung (attorney general). Mereka semua dikenal lebih pinter, lebih terkenal, dan lebih berpengalaman ketimbang Lincoln. Tetapi Lincoln, lebih piawai dan ‘lebih baik’.

Di dalam kepemimpinan Lincoln, mereka menjadi ‘The Team of Rivals’ yang kompak. Seward yang tadinya kesel sama Lincoln lalu memuji kejeniusan ini dan akhirnya menjadi sahabat Lincoln dan pembantu utama dalam administrasi kepresidenan. Begitu juga Bates yang salut kepada Lincoln sebagai pemimpin tiada tara. Begitu juga Chase, orang ambisius ini menyadari bahwa Lincoln adalah pemimpin jauh di atas kelasnya.

Mereka dan bersama-sama anggota kebinet lainnya telah merubah Amerika dari gelap menjadi terang. Inilah yang menginspirasi Obama. Ketika Obama ditanya, buku apa yang tidak pernah terlupakan. Jawabannya spontan: Team of Rivals. Buku ini adalah sejarah kejeniusan Lincoln.

Akankah hal itu diikuti oleh SBY? Saya pikir bisa saja. Tetapi sudah barang tentu, para pesaing yang diminta Lincoln ikut membantu itu bukanlah tipe orang yang merengek-rengek minta jabatan. Pak tolong dong pak, partaiku dikasih jatah. Apalagi kalau ‘Pak tolong dong saya diangkat’. Di sana hal itu tidak terjadi.

Kalau kata Kabayan: “Euweuh wee”.

<< Sebelum || Berikut >>

Premier Business Leadership Series (26)

By | September 10, 2009

Oleh Dr. Asep Saefudin

Mohon maaf saya harus off selama beberapa hari karena alasan2 teknis. Kini PBLS saya lanjutkan lagi.

Untuk mengingatkan kembali, bahwa di dalam olah raga hoki di Kanada ada korelasi antara prestasi pemain dengan bulan kelahirannya. Mereka yang lahir di bulan-bulan awal tahun terlihat lebih berprestasi ketimbang mereka yang lahir di pertengahan dan akhir tahun. Seolah-olah olah raga itu milik bintang Late Capricon, Aquarius, dan Pieces.
Gladwell mengambil contoh pertandingan Liga Utama Hoki Yunior Kanada antara Tiger dan Medicine Hat yang dia ganti dengan tanggal-bulan lahir pemain, sebagai berikut (dimodifikasi):

11 Maret mulai dari sisi jaring Tiger, melepas bola untuk 4 Januari yang mengopernya kepada 22 Januari, lalu dikembalikan ke 12 Maret, yang menembakkannya sangat keras ke gawang lawan, 27 April. Lalu 27 April dengan tangkas menangkis tembakan tetapi disamber langsung oleh 6 Maret yang menembakan ke arah gawang lagi. Pemain belakang Medicine Hat 9 Februari dan 14 Februari terjun untuk menangkis, tetapi 6 Maret begitu gesit dan sulit ditahan bahkan oleh 10 Januari sekalipun. Dan 6 Maret akhrinya menyarangkan gol.

Kalaulah pertandingan itu saya teruskan dan pemain diganti dengan tanggal-bulan lahir, sirkulasi bola dikuasai oleh Capricon, Aquarius, dan Pieces di kedua kubu. Data menunjukkan bahwa pemain di Liga Hoki Junior Ontario Kanada yang dilahirkan di bulan Januari sekitar lima kali lebih banyak dari mereka yang lahir bulan November. Secara kesuluruhan di Kanada, pemain elit hoki 40 persen dilahirkan di bulan Januari, Februari dan Maret, 30 persen antara April dan Juni, 20 persen antara Juli dan September, dan 10 persen antara Okt dan Desember.

Di dalam permainan hoki Kanada itu, jawabannya ternyata bukan soal genetik atau faktor musim dan superioritas gen yang muncul, tetapi sebuah sistem yang dibuat oleh asosiasi olah raga hoki Kanada. Sangat sederhana, sehingga efeknya tidak disadari kecuali oleh orang jeli. Yaitu, batasan umur penerimaan pemain hoki di Kanada adalah tanggal 1 Januari. Artinya pemain junior yang lahir 2 Januari dianggap sama umurnya dengan pemain junior yang lahir 30 Des, sebenarnya terpaut hampir satu tahun. Untuk pemain junior perbedaan usia 1 tahun itu memberikan efek yang sangat signifikan. Setelah mereka lolos seleksi dan diterima sbg pemain hoki junior, lalu diberikan pelatihan2. Dengan kekuatan fisik yang relatif lebih daripada mereka yang 12 bulan lebih muda akhirnya mereka lebih sering mendapat latihan dan pertandingan. Akhirnya, jadilah mereka pemain handal. Di sinilah rupanya asal muasal adanya korelasi antara bulan lahir dan kehandalan pemain. Efek awal pola seleksi penentuan tanggal 1 Januari itu terus merembet sampai mereka menjadi pemain hoki yang hebat-hebat. Awalnya, hanya gara-gara menang lebih tua saja. Tetapi akhirnya mereka menjadi outliers.

Dus, secara tidak disadari sebenarnya bisa saja kita sebagai manusia telah membuat orang-orang menjadi outliers hanya gara-gara persoalan teknis. Di dalam hal hoki, titik 1 Januari itu telah menutup peluang anak-anak berbakat yang lahir di bulan Desember menjadi outliers. Kejadian liga hoki Kanada ini bisa saja terjadi di dalam kehidupan lainnya. Silakan disimak.

<< Sebelum || Berikut >>

Premier Business Leadership Series (25)

By | September 5, 2009

Oleh Dr. Asep Saefudin

OUTLIERS

Di dalam The Tipping Point sekilas Galdwell menyebut ada tipe orang-orang yang luar biasa. Mereka tidur hanya sedikit, membaca koran/buku/jurnal lebih banyak, bekerja lebih giat, belajar lebih sering, pokoknya segala sesuatunya mereka lakukan dalam takaran ‘lebih’ daripada pada umumnya manusia. Jadilah mereka outliers. Orang itu bisa saja ilmuwan, pebisnis, seniman, manager, petani, penulis, pilot, atau profesi apa saja.

Selain faktor genetik, ada faktor lingkungan yang awalnya mendukung atau mungkin memaksa mereka berlaku lebih. Dari kisah ‘Tumbuh Kembang di Tiga Zaman’ kita bisa melihat bagaimana Pak Andi ditempa situasi masa dini sehingga akhirnya Beliau menjadi penulis produktif, punya inovasi/ determinasi yang jelas, dan ciri lainnya sebagai seorang ‘outlier’, temasuk kejeniusannya dalam menjaring siswa berbakat untuk menjadi mahasiswa.

Di luar itu, ada suatu sistem yang dibuat manusia sehingga menyebabkan sekelompok orang manjadi outliers dalam suatu hal. Lalu menyisihkan orang lainnya sehingga menjadi orang biasa saja. Bila sistem itu rasional, mungkin keterwujudan outlier menjadi wajar. Yang parah bila sistem itu irrasional, bisa jadi hal itu menyengsarakan masa depan seseorang. Di dalam pendidikan, bisa saja terjadi seorang yang berbakat dan cerdas harus terlempar dari bangku kuliah hanya gara-gara dia tidak bisa bayar SPP. Na’udzubillah (Semoga tidak terjadi).

Pada bagian pendahuluan Gladwell mengangkat isu outlier pada pemain hoki di Kanada. Selain base-ball, hoki adalah olah raga yang sangat digandrungi orang Kanada. Sangat tergila-gila. Di Underground City Toronto ada musium hoki diberi nama Hall of Fame untuk menghormati pejuang-pejuang hoki Kanada. Ditilik dari jenis permainannya, saya pikir wajar kalau orang demen sama hoki. Tapi kalau base-ball, secara merasa permainan itu cukup ‘boring’. Tetapi base ball lebih tidak membosankan ketimbang golf.

Kembali ke hoki yang dianalisis oleh Gladwell, ada yang menarik dari bulan lahir para pemain Junior suatu grup juara Kanada. Kalau hoki juara Kanada hal itu berarti juara dunia. Seperti halnya bulu tangkis di Indonesia sebelum tahun 83, juara Indonesia adalah juara dunia. Sekarang konotasi itu diambil oleh Cina. Sangat disayangkan.

Apa yang aneh dengan bulan lahir para pemain junior hoki di Kanada itu? Ternyata hampir semua pemain dilahirkan di bulan awal tahun seperti Januari, Februari, Maret, dan April. Apakah musim dingin menyebabkan anak lahir membawa gen-gen super untuk hoki? Ataukah gen-gen super untuk hoki yang pada sperma dan sel telur itu cocok bertemu pada musim semi, sehingga pada musim dingin berikutnya melahirkan anak jenius hoki? Atau apa?  Don’t go away, I’ll be back dengan jawaban itu he he he.

Premier Business Leadership Series (24)

By | September 3, 2009

Oleh Dr. Asep Saefudin

Mohon maaf saya baru bisa muncul lagi sekarang setelah dua hari dalam status ‘off when roaming’. Terpaksa saya buat status itu karena diingatkan oleh teman saya yang pernah harus bayar sekitar Rp 2 juta ketika dia berada di luar wilayah roaming hapenya selama 3 hari. Dia adalah anggota millist di mana2 dan waktu itu belum tahu ada fasilitas ‘off when roaming’. Dia sangat baik sehingga dia kasih tahu temannya supaya status roaming harus diubah bila berada di luar kawasan hape. Kalau tidak, tagihan sebesar itu bisa terjadi pada diri saya. Uang sebesar itu setara dengan rataan gaji dosen PTN per bulan.

Kembali ke outliers Pak Andi. Di masa awal kemerdekaan, pemerintah Indonesia belum sempat menerbitkan buku-buku pelajaran sekolah berbahasa Indonesia. Selain itu, kalaupun ada, buku-buku masih ditulis dalam bahasa Belanda. Untungnya Pak Andi menguasai bahasa itu secara ‘outlier’ karena sewaktu Sekolah Rakyat banyak sekali membaca buku berbahasa Belanda. Lalu, kebetulan Beliau menemukan buku-buku pelajaran setingkat SMP berbahasa Belanda untuk aljabar, fisika, ilmu ukur, dan botani di rak ayahnya. Teman-temannya banyak yang memerlukan buku itu, padahal saat itu belum ada mesin fotokopi. Cara memperbanyak yang paling ampuh adalah dengan menggunakan mesin stensilan. Di situlah Beliau mendapatkan pelajaran ‘outliers’ lagi dengan mengetik semua buku itu untuk diperbanyak dan dibagikan ke teman-temannya. Itulah yang membuat Beliau lancar mengetik walaupun dengan sistem ‘sebelas jari bersirip di tengah’, demikian istilah Beliau suatu waktu di depan kelas ‘Matematika Peradaban’ tahun 1977.
Selain tugas mengetik, semua buku tersebut harus diterjemahkan terlebih dahulu ke dalam bahasa Indonesia. Hal itu Beliau langsung lakukan sambil mengetik di kertas stensil. Itulah sebabnya Beliau mahir berbahasa Indonesia dan terbiasa membuat istilah baru untuk keilmuan di dalam bahasa kita. Tidak heran kalau kita melihat nama Beliau sebagai Ketua Tim Penyusunan Buku Matematika Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dekade 70.

Ketika saya menjadi mahasiswa bimbingannya tahun 1979-80, selain saya melihat tulisan ‘THINK’ di mejanya, biasanya saya melihat pak Andi sedang asyik di depan komputer, menulis artikel. Di dalam hati ‘pantesan tulisannya sering saya lihat di koran-koran nasional’. Pada dekade 70 itu tulisan Beliau di Kompas hampir setiap minggu muncul.

Ketika Beliau wajib mengambil mata kuliah Bahasa asing modern kedua di NCSU (North Carolina State University), diambilnya Bahasa Belanda. Tugas akhirnya adalah menerjemahkan paper berbahasa Belanda ke Bahasa Inggris, tentu saja Beliau tidak menemukan sedikitpun kesulitan. Mengapa? Sewaktu di SMP, selain pak Andi menerjemahkan bahasa Belanda ke Indonesia, juga pernah menerjemahkan bahasa Belanda ke Inggris dari buku berjudul “Step by Step” (lihat Nasoetion, 2002).

Dari ulasan PBLS tentang Pak Andi ini, Beliau adalah ‘blinker’ dan sekaligus ‘outlier’. Terutama di dalam kebahasaan, keilmuan, statistika, dan kedisiplinan. Tidaklah berlebihan jika Pak Mochtar Buchori mengatakan “Pak Andi itu tahu banyak hal dan mendalam”.

Tentang outlier Pak Andi saya cukupkan dulu sampai di sini. Selanjutnya bagaimana cerita outlier Malcolm Gladwell? Insya Allah diteruskan kapan-kapan.

<< Sebelum || Berikut >>

Premier Business Leadership Series (23)

By | September 2, 2009

Oleh Dr. Asep Saefudin

Mengapa bahasa Urdu, pak Andi di dalam tulisan ‘Tumbuh Kembang di Tiga Zaman’ itu hanya menduga bahwa kemungkinan hal itu karena banyak tentara pendudukan sekutu yang asal muasalnya dari brigade Punjabi dimana bahasa Urdu sebagai bahasa ibu. Alasan sebenarnya Beliau tidak tahu, dan itupun hanya berlangsung sangat sebentar. Pak Andi mengaku hanya bisa menghitung satu sampai lima dengan bahasa Urdu itu, yakni ik, do, tiin, syaar, dan panc. Beliau menegaskan angka ‘panc’ itu berbunyi sama dengan panca pada Pancalisa.

Zaman awal kemerdekaan itu terlihat memberikan sumbangan cukup signifikan terhadap kemampuan Pak Andi dalam penguasaan bahasa khususnya Belanda dan Inggris. Baik dalam menulis ataupun oral Beliau adalah outlier kedua bahasa itu. Khusus untuk statistika, pada pertengahan tahun 70 Beliau bersama-sama Pak Barizi telah menghasilkan Kamus Istilah Statistika.

Dalam bahasa Indonesia secara umum, Beliau juga outlier. Kemampuan inilah yang akhirnya Pak Andi sering membuat istilah bahasa Indonesia diadopsi dari berbagai bahasa. Misalnya, istilah ‘pasca’ Beliau buat awal tahun 1975 ketika Sekolah Pascasarjana IPB didirikan dimana Pak Andi sebagai Direktur Sekolah. Suatu waktu di kelas Filsafat Sain S3 tahun 1997, pak Andi sempat bercerita. Katanya, ada seseorang yang melafadkan ‘paska’ untuk ‘pasca’. Lalu Pak Andi mengoreksinya “pasca, bukan paska”. Orang itu balik bertanya:”Bapak tahu darimana?”. Pak Andi menjawab tegas:”Saya tahu karena kata itu saya yang buat, sebagai terjemahan dari post. Pascasarjana berasal dari kata Inggris postgraduate”. Namun demikian, walaupun di IPB saat ini saya masih mendengar orang mengucapkan paska-sarjana, padahal yang benar adalah pascasarjana. Dalam EYD (Ejaan yang Disempurnaka) ‘C’ adalah huruf pengganti untuk lafal ‘TJ’ pada ejaan lama.

Apalagi yang membuat Pak Andi sangat kuat dalam berbahasa, logika matematika, dan ilmu-ilmu dasar kealaman? Insya Allah besok dilanjutkan

<< Sebelum || Berikut >>

Premier Business Leadership Series (22)

By | September 1, 2009

Oleh Dr. Asep Saefudin

Zaman pendudukan Jepang juga telah memberikan kontribusi terhadap pak Andi sebagai ‘outliers’, walaupun tidak sebanyak zaman Hindia Belanda. Pada zaman Jepang, bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar di Sekolah. Bahasa Jepang juga wajib untuk para siswa. Setiap Senin pagi siswa siswi mengibarkan bendera Jepang dan sumpah pelajar Jawa Baru. Di dalam buku “Pola Induksi”, pak Andi menuliskan bahasa Jepang dari sumpah itu secara lengkap yang katanya masih Beliau ingat. Adapun terjemahannya kira-kira:

Satu, kami adalah pelajar Jawa Baru. Satu, kami di bawah bimbingan Nippon Raya. Demi pembangunan Asia Timur Raya kami belajar. Demi pembangunan Asia Timur Raya kami gembleng jiwa raga kami. Demi pembangunan Asia Timur Raya kami ucapkan sumpah kami ini.

Kata-kata dalam sumpah itu jelas arahnya. Untuk “nation character building” saya pikir sumpah itu perlu sekali. Saat ini tidak ada sumpah pelajar seperti itu. Yang ada adalah sumpah jabatan, tetapi bahasanya rada ngawang, kurang ada ‘determination‘. Misalnya (kurang lebih): Bahwa saya bersumpah untuk tidak akan menerima sesuatu hal yang akan atau patut dicurigai berhubungan atau mungkin berhubungan dengan jabatan atau kedudukan saya.

Para siswa sekolah lima hari dalam seminggu, karena setiap Kamis diisi kegiatan “kinroohosyi” atau kerja-bakti. Kegitan ‘kinroohosyi’ itu macam-macam, termasuk memelihara kebun pohon jarak di Sekolah. Para siswa memanen biji jarak untuk diperas minyaknya sebagai bahan minyak pelumas pesawat terbang. Kegiatan ‘kinroohosyi’ setiap Kamis ini telah menggembleng jiwa gotong royong para siswa dan sekaligus ‘learning by doing‘.

Pada waktu saya SMP awal tahun 70an juga ada kegiatan mirip ‘kinroohosyi’ kelas secara bergiliran. Waktu itu bukan untuk upaya penggemblengan, tetapi karena SMP saya kekurangan kelas. Jadi ada kelas kebun secara bergiliran. Setelah pemerintah membangunkan kelas tambahan, kegiatan ‘kinroohosyi’ tidak ditemukan lagi. Namun demikian, kelas kebun sangat bermanfaat bagi siswa-siswa untuk memahami betapa tidak mudahnya (sangat sulitnya) kehidupan petani. Mereka harus mencangkul setiap hari, termasuk hari Minggu. Khusus hari Minggu, saya senang sekali ‘kinroohosyi’ di ladang, karena jam 10 pagi bisa ikut makan nasi timbel lengkap dengan tempe goreng, peda (ikan asin) bakar, daun sampeu (singkong) dan sambel terasi ‘ledok’. Hhmm asyiik.

Karena pendudukan Jepang cuman berumur jagung efek ‘outliers’ Jepang terhadap Pak Andi tidak terlalu banyak. Setelah proklamasi kemerdekaan RI, bahasa Jepang dihilangkan dari daftar pelajaran SMP. Sebagai gantinya diajarkan bahasa Urdu (salah satu bahasa di India), terus bahasa Inggris.

Loh kok bahasa Urdu? Nantikan seri PBLS berikutnya.

<< Sebelum || Berikut >>